Home » Archives for Mei 2014

Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.
Allah menjawab, Tidak.
Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.
Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.
Allah menjawab, Tidak.
Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.
Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.
Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.
Allah menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.
Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.
Allah menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.
Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.
Allah menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah
Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Allah menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.
Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Allah menjawab.... Ahhh, akhirnya kau mengerti.
HARI INI ADALAH MILIKMU, JANGAN SIA-SIAKAN.
Bagi dunia, kamu mungkin hanyalah seseorang,
Tetapi bagi seseorang kamu adalah "dunianya"
WASSALAMUALAIKUM WR. WB.
Thanks & God bless you,
Mikhalina Sidauruk
World Harvest
Orang-Orang yang tidak Mau Masuk Surga
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rdhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Semua untuku masuk surga, kecuali orang-orang yang tidak mau." Para
sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa orang-orang yang tidak mau
masuk surga?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan, barangsiapa tidak taat
kepadaku, ia tidak mau masuk surga." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
Hadits di atas kabar gembira bagi kaum Muslim bahwa mereka kelak masuk
surga, kecuali orang-orang yang tidak mau masuk surga. Orang-orang itu
tidak mau masuk surga bukan karena tidak membutuhkan surga. Tapi, lebih
disebabkan tidak tahu jalan menuju surga, malas masuk kedalamnya, dan
lebih sreg dengan kenikmatan dunia yang fana ini daripada kenikimatan
abadi di surga.
Seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam di atas, masuk surga menuntut orang taat kepada beliau. Kata asha
pada hadits di atas artinya tidak mau dan menolak masuk surga.
Penolakan ini punya banyak sebab, dalam bentuk kendala-kendala yang
membelenggu sebagian jiwa manusia dan menyebabkan mereka tidak bisa
melakukan taubat nashuhah, yang notabene kunci masuk surga.
Kendala-kendala itulah yang menyebabkan mereka tidak mau masuk surga,
padahal mereka tahu kenikmatan abadi di dalamnya.
Kendala-kendala taubat itu banyak. Di antaranya, sebagai berikut:
-
Tidak Memberangus Berhala-Berhala
Hawa nafsu adalah berhala-berhala yang disembah selain Allah Ta’ala. Karena itu, Allah Ta’ala berfirman,
"Terangkan kepadaku orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (Al-Furqan: 43)
Jadi, riba itu berhala. Zina itu berhala. Penipuan itu berhala.
Mengumbar aurat itu berhala. Makan harta dari sumber tidak benar itu
berhala. Dan, apa saja yang digemari jiwa dan dimurkai Allah Ta’ala itu
berhala, yang disembah selain Allah.
Taubat tidak terealisir dengan maksimal, kecuali dengan memberangus
seluruh berhala ini dan tidak membiarkannya hidup subur. Jika seseorang
bertaubat, tapi semua berhala itu masih bersemanyan di jiwanya, maka itu
taubat palsu, karena jiwa selalu menyuruh kepada kejahatan. Jika salah
satu dari berhala ini bercokol di hati seseorang dan tidak diberangus,
maka berhala itu merayu, menggoda, dan membuatnya rindu kembali kepada
"tuhannya" tempo dulu. Kalaupun ia menolak dan mampu bertahan, berhala
itu tidak henti-hetinya menyerangnya, hingga ia kembali seperti dulu dan
taubatnya gagal total, sebab ia tidak menghancurkan seluruh berhala di
hatinya.
Karena itu, barangsiapa ingin taubatnya dinilai sebagai taubat nashuhah,
ia harus menghancurkan apa saja yang mengaitkannya dengan masa lalunya.
Kita dengar sebagian orang yang tadinya bertaubat tiba-tiba kembali
kepada kesesatan lamanya, sebab ia tidak menghancurkan hal-hal yang
mengingatkannya pada maksiat. Misalnya, alat musik, gambar porni, harta
haram, persahabatan dengan wanita bukan muhrim (bagi laki-laki), minuman
keras, NARKOBA, dan maksiat-maksiat lain. Kita juga saksikan sebagian
orang tokoh berada dalam koridor taubatnya, sebab ia menghadapi apa saja
yang mengaitkannya dengan apa saja yang dibenci Allah Ta’ala.
Kendala taubat lain yang prinsipil ialah tidak merubah tempat dan
lingkungan maksiat. Orang yang ingin selamat tidak boleh berdomisili di
tempat "wabah", sebab ia akan terkena "kuman" penyakit, atau menutup
pintu rumahnya rapat-rapat, atau mengucilkan diri dari manusia, lali ia
mati secara perlahan.
Karena itu, di hadits tentang pembunuh seratus
orang disebutkan orang shalih berkata kepada pembunuh itu yang bertaubat
untuk terakhir kali di depannya,
"Pergilah ke negeri ini dan itu
(sambil menyebut negeri yang dimaksud), karena di sana ada orang-orang
yang beribadah kepada Allah dan beribadahlah dengan mereka. Engkau
jangan pulang ke negerimu, sebab negerimu rusak." (Diriwayatkan Muslim).
Bagaimana taubat orang dari zina bisa baik jika ia masih bekerja di
tempat pelacuran? Bagaimana taubat seseorang dari bersahabat dengan
wanita dapat baik jia ia tetap mendatangi tempat-tempat kumpul wanita?
Bagaimana taubat seseorang dari minuman keras bisa baik jika ia masih
mengunjungi tempat-tempat penjualan minuman keras? Jadi, siapa saja
bertaubat dengan taubat nashuhah harus meninggalkan tempat maksiat.
-
Hati Tertarik kepada Dosa
Ibnu Al-Qayyim menyebutkan di buku Madariju As-Salikin adanya fenomena
taubat asal-asalan dan menyebutkan bentuk-bentuknya. Di antaranya,
"Lemahnya tekad tidak kembali kepada maksiat, hati masih tertarik pada
dosa dari hari ke hari, dan ingat keasyikan mengerjakannya. Kadang,
seseorang menarik nafas panjang dan naik darahnya ingin bermaksiat
lagi."
Ketertarikan hati pada dosa terjadi akibat adanya futur (spiritual
melemah), yang merupakan ekses dari lemahnya taqarrub kepada Allah
Ta’ala, misalnya dengan membaca Al-Qur’an, dzikir secara rutin setelah
setiap shalat wajib, qiyamul lail, puasa sunnah, bersedekah, muhasabah
dan sarana-sarana taqarrub kepada Allah Ta’ala lainnya. Ketertarikan
seperti itu membuat seseorang selalu diliputi perasaan was-was dan
pikiran-pikiran dari setan dan bala tentaranya.
Jika seseorang takluk pada pikiran-pikiran seperti itu, tanpa
menangkalnya dan mengalahkannya dengan kesadaran yang mengembalikannya
ke jalan lurus, maka kadang membuatnya kembali kepada tempat sesat dan
maksiat. Pikiran seperti itu dapat dikikis dengan perasaan selalu
diawasi Allah Ta’ala, istighfar, dan minta perlindungan kepada-Nya dari
setan yang terkutuk.
Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,
"Pezina tidak berzina jika ia beriman saat berzina. Pencuri tidak
mencuri jika ia beriman saat mencuri. Seseorang tidak minum khamr jika
ia beriman pada saat meminumnya." (Diriwayatkan Muslim).
Ya, seseorang lengah kalau Allah Ta’ala mengawasinya saat ia mengerjakan
seluruh kemaksiatan. Jika perasaan selalu merasa diawasi Allah Ta’ala
tidak dimiliki orang Muslim, maka perjalanannya menuju akhirat lamban,
bahkan statis dan tidak tertutup kemungkinan ia mengerjakan hal-hal yang
merusak taubatnya. Dalam kondisi seperti itu, sulit baginya mengerjakan
amalan-amalannya yang mendukung taubatnya. Karena itu, Ibnu Al-Qayyim,
menyebutkan, di antara tanda taubat asal-asalan ialah, "Mata kering
hingga tidak bisa menangis, lengah terus-menerus, dan pelakunya tidak
mengerjakan amal-amal shalih yang tidak ia kerjakan sebelum bertaubat."
Amal shalih tak ubahnya seperti bahan bakar bagi mobil. Mobil mustahil
bisa berjalan tanpa bahan bakar. Kebersihan bodi dan warna menawan tidak
banyak berarti bagi mobil tanpa bahan bakar. Begitu juga orang yang
bertaubat. Jika ia tidak mengerjakan amal-amal shalih pasca taubatnya,
maka ia stagnant ketika bekal lamanya habis dan tidak pernah ia tambah.
Amal-amal shalih tidak dapat dikerjakan tanpa adanya perasaan selalu
merasa di awasi Allah Ta’ala di semua kondisi: perkataan, perbuatan,
tidur, tidak tidur, diam, dan bergerak.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Seseorang mengikuti agama teman akrabnya. Karena itu, hendaklah seorang
dari kalian menimbang-nimbang dengan siapa ia harus berteman?"
Ini berarti seseorang mau tidak mau harus terpengaruh dengan teman
akrabnya, baik pengaruh positif atau pengaruh negatif. Jika teman
akrabnya orang shalih, maka pengaruhnya negatif. Jika orang yang yang
bertaubat tidak beralih dari teman jahat kepada teman shalih, ia tidak
dapat menghindarkan dirinya dari lingkaran pengaruh negatif dari
teman-teman akrabnya yang jahat itu. bagaimana tidak, wong temannya si A
menertawakan komitmennya dengan Islam, si B mengungkit-ungkit saat
indah ketika begadang, si C ngobrol dengan wanita di depan matanya, si D
membicarakan maksiatnya diluar negeri, ia tidak mendengar perkataan
dzikir dan teman-temannya, yang masuk ke telinga hanya umpatan dan
kata-kata jorok? Bagaimana mungkin orang bertaubat mampu tegar, wong
"bom" maksiatnya mengincarnya siang malam? Apakah itu dari iblis
manusia, setan, dan ia tidak mendapatkan orang yang mengingatkannya
kepada Allah Ta’ala?
Kita sering menemui orang-orang yang tidak berganti teman-teman akrabnya
dan menolak berteman dengan orang-orang shalih akibat termakan media
informasi anti Islam, padahal mereka sebelumnya mendapatkan petunjuk
dari Allah Ta’ala. Nasib mereka kemudian bisa di tebak, yaitu terpuruk
setelah diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, bahkan lebih parah dari
sebelumnya.
Teman jahat itu seperti alat peniup api milik ahli besi. Begitu sabda
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di hadits yang diriwayatkan
Al-Bukhari,
"Alat peniup api milik ahli besi bisa membakar rumahmu, atau pakaianmu,
atau engkau mencium bau tidak enak darinya." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
Ali bin Abu Thalib Radhitallahu Anhu berkata, "Anda jangan bersahabat
dengan orang-orang jahat, sebab ia akan mempercantik perbuatan jahatnya
kepada Anda dan menginginkan Anda seperti dia."
Al-Manawi menukil perkataan seorang ulama, "Anda jangan berteman dengan
orang-orang jahat, sebab kepribadian Anda akan menjiplak dari mereka
tanpa Anda sadari. Kejahatan seseorang kepada temannya itu tidak hanya
dengan perkataan dan perbuatannya. Tapi, juga dengan melihat kepadanya.
Melihat foto atau gambar membuat seseorang berperilaku seperti perilaku
orang yang ia lihat di foto atau gambar itu."
-
Lupa Kematian dan Su’ul Khatimah
Seseorang mengalami kesulitan besar jika setiapkali ingin bertahan pada
taubat nashuhah-nya, tapi pada saat yang sama, ia rindu ingin kembali ke
masa lalunya. Ia terbuai angan-angan kosong dan kesehatan yang ia
rasakan sekarang. Lalu, ia menyuruh dirinya menunda amal shalih dari
waktu ke waktu. Ia lupa kematian yang kapan waktunya tidak diketahui
siapa pun. Ia terkejut jika kematian datang kepdanya secara tiba-tiba
saat ia dalam keadaan lengah dan ia pun mengalami su’ul khatimah (mati
mengenaskan). Ia lupa detik-detik kritis ini dikehidupannya dan lupa
detik-detik kritis itu penyebab yang menggalkan taubat seseorang.